Ketika Motivasi Hilang, Ternyata Ada Luka yang Belum Sembuh

 

Seorang remaja datang dengan perasaan lelah yang sulit dijelaskan. Ia mudah putus asa, kehilangan motivasi, dan merasa tidak memiliki semangat untuk melangkah. Bukan karena ia tidak mampu, melainkan karena di dalam dirinya ada beban emosional yang selama ini dipendam.

Dalam proses hipnoterapi, perlahan terungkap bahwa ia adalah anak tengah dari tiga bersaudara. Sejak kecil, ia sering merasa diabaikan dan dibanding-bandingkan dengan kakak serta adiknya. Kata-kata ibunya kerap melukai, membuatnya merasa tidak cukup baik dan tidak dianggap penting.

Satu peristiwa sederhana ternyata meninggalkan luka yang dalam. Saat ia ingin belajar berenang, ibunya melarang tanpa penjelasan. Bagi orang dewasa mungkin hal kecil, namun bagi seorang anak, itu menjadi pesan yang tertanam kuat: keinginanku tidak penting. Sejak saat itu, semangatnya perlahan memudar, dan ia belajar untuk menyerah bahkan sebelum mencoba.

Dalam sesi hipnoterapi, emosi yang selama ini terkunci akhirnya menemukan jalan keluar. Marah, kecewa, sedih, dan rasa tidak dicintai muncul ke permukaan. Ketika diminta memaafkan, ia menolak. Luka itu terlalu dalam. Namun melalui proses healing, dengan menghadirkan sosok ibu secara visual dan dialog batin yang aman, ia mulai melihat peristiwa masa lalu dengan sudut pandang yang berbeda.

Perlahan, forgiveness terjadi. Bukan untuk membenarkan luka, tetapi untuk membebaskan diri. Saat itu, ia merasakan sesuatu yang baru muncul dari dalam dirinya—seperti energi yang bangkit, kekuatan yang selama ini tertutup oleh kemarahan dan kekecewaan.

Sejak proses itu, ia mulai melihat hidup dengan cara yang berbeda. Motivasi yang hilang perlahan kembali. Masa lalu tidak lagi menjadi beban, melainkan bagian dari perjalanan yang membentuk ketangguhannya hari ini.

Kisah ini mengingatkan kita bahwa kata-kata dan sikap orang tua meninggalkan jejak panjang di hati anak. Kasih, penerimaan, dan komunikasi dari hati ke hati adalah kebutuhan dasar yang tak tergantikan.

Dan bagi setiap anak atau remaja yang sedang bertumbuh: jika ada luka yang menghalangi langkahmu menuju masa depan, jangan memendamnya sendiri. Saat luka batin disembuhkan, potensi dan semangat hidup pun akan menemukan jalannya kembali.

Salam Rahayu, sehat dan Berkelimpahan

Tina Hipnoterapis

BSD

Bangkit dari Kehilangan:

 




Perjalanan Seorang Ibu Melalui Hipnoterapi untuk Menemukan Arah Hidupnya Kembali

Kehilangan pasangan hidup bukan sekadar kehilangan seseorang—sering kali itu terasa seperti kehilangan setengah dari diri sendiri. Hal inilah yang dialami seorang ibu yang tiba-tiba ditinggal suaminya tanpa tanda, pesan, atau persiapan apa pun. Suaminya selama ini adalah tangan kanan, manajer hidup, sekaligus pilar utama rumah tangga. Mulai dari bayar listrik, pajak, hingga pengelolaan aset bisnis—semuanya ada di tangan suami.

Saat ia pergi, sang ibu seperti tenggelam dalam kekosongan yang tak pernah ia bayangkan. Tubuhnya hadir, tapi jiwanya seolah hilang arah. Banyak orang bilang “kamu masih punya segalanya”, namun baginya… kekayaan yang tersisa justru terasa hampa.

Ia ingin bangkit, tapi kaki rasanya tak punya tenaga. Ia ingin bergerak, tapi pikirannya selalu mundur. Hari demi hari ia mengurung diri, terjebak dalam rasa bersalah dan penyangkalan. Kehidupan yang dulu ia jalani bersama suaminya tiba-tiba seperti berhenti.

Di titik inilah ia memutuskan mencari pertolongan—dan hipnoterapi menjadi pintu awal untuk menemukan dirinya kembali.


✨ Sesi Pertama: Mengurai Luka, Mengakui Kehilangan

Pada sesi pertama hipnoterapi, fokusnya adalah memberi ruang pada perasaan yang selama ini ia kubur dalam diam. Dalam kondisi relaks dan aman, ia diajak menyelami pikiran bawah sadarnya—masuk ke tempat paling dalam di mana rasa sakit, ketakutan, dan kehilangan itu bersemayam.

Di sana, ia menemukan dirinya yang sedang berduka… benar-benar berduka.
Semua beban yang selama ini ia tahan akhirnya muncul ke permukaan: rasa marah karena ditinggal tiba-tiba, rasa takut menghadapi hidup sendiri, rasa kecil karena tidak terbiasa mengambil keputusan, dan rasa bersalah karena merasa tidak cukup kuat.

Pada tahap ini, hipnoterapi membantu klien untuk:

  • Mengakui rasa kehilangannya tanpa menghakimi diri sendiri.

  • Melepaskan emosi yang menumpuk: syok, marah, takut, dan perasaan tak berdaya.

  • Menyadari bahwa kesedihan bukan tanda kelemahan, tetapi proses alami hati yang sedang berusaha bertahan.

Di akhir sesi, sang ibu mulai merasakan sedikit ruang bernapas.
Masih sakit, masih berat—tapi ada titik terang kecil yang mulai muncul.
Untuk pertama kalinya sejak kepergian suaminya, ia merasakan “ada kemungkinan untuk hidup lagi.”


✨ Sesi Kedua: Membangun Kekuatan Baru dan Menata Arah Hidup

Setelah luka terdalamnya disentuh dan dikenali, sesi kedua berfokus pada langkah yang sering kali paling sulit: belajar hidup lagi.

Dalam hipnoterapi lanjutan ini, ia dibimbing untuk menghadapi ketakutan terbesar yang selama ini membelenggunya: hidup tanpa suami yang selama ini memegang kendali.

Melalui proses visualisasi dan penguatan mental, ia belajar bahwa:

  • Ia mampu mengambil keputusan.

  • Ia bisa mempelajari hal-hal yang dulu ditangani suami.

  • Ia tidak perlu menjadi “sesempurna” suaminya—cukup menjadi dirinya yang terus belajar.

  • Masa depan bukan tentang menggantikan yang hilang, tapi membangun sesuatu yang baru dari kekuatannya sendiri.

Dalam proses ini, ia juga memaafkan dirinya—untuk hari-hari ketika ia jatuh, ketika ia merasa gagal, ketika ia tidak bisa bangkit secepat yang diharapkan orang lain.
Perlahan, rasa bersalah yang menghantuinya mulai larut.

Ia mulai menemukan:

  • keberanian untuk membuka pintu,

  • ketenangan untuk kembali berinteraksi dengan dunia,

  • dan tekad untuk melanjutkan hidup bukan karena ia harus, tapi karena ia layak hidup bahagia lagi.

Di akhir sesi kedua, ia menyusun langkah-langkah nyata untuk hidup ke depan:
memahami pengelolaan aset, meminta bantuan profesional bila perlu, menata ulang rutinitas, dan membangun kembali relasi sosial yang sempat ia tutup rapat.


✨ Penutup: Duka Tidak Pernah Benar-Benar Hilang, Tapi Manusia Bisa Tumbuh dari Sana

Perjalanan sang ibu bukan tentang melupakan suaminya, karena itu tidak mungkin dan tidak perlu.
Perjalanannya adalah tentang menemukan diri sendiri setelah kepergian seseorang yang berarti.

Hipnoterapi membantunya membuka jalan yang selama ini tertutup oleh rasa sakit. Bukan solusi instan, bukan penghapus duka, tapi proses penuh kesadaran yang membuat seseorang bisa berdiri lagi dengan hati yang lebih kuat.

Kehilangan memang mengubah hidup, tapi tidak harus mengakhirinya.
Manusia selalu punya ruang untuk tumbuh, bahkan dari patahan terbesar sekalipun. ✨


Kasus diatas dilakukan 3 sesi


Salam sehat, Sukses dan Berkelimpahan

Late post; 7/07/2025

Tina Hipnoterapis

IInner Child yang Membelenggu Kehidupan


Catatan Sesi Hipnoterapi: Seorang Ibu dengan Keluhan Emosional dan Hubungan

1. Pretalk / Pembukaan


  • Klien datang dengan keluhan:

    • Merasa seperti ada yang mengejar-ngejar.

    • Mudah marah, terutama dengan pasangan.

    • Merasa semua orang membenci dirinya.

    • Tidak bersemangat menjalani hidup sehari-hari.

  • Tujuan pretalk:

    • Membuat klien merasa aman dan nyaman.

    • Menjelaskan proses hipnoterapi, termasuk bagaimana hipnoterapi bekerja untuk membuka pikiran bawah sadar dan melepaskan emosi yang terpendam.

    • Memberi keyakinan bahwa pengalaman masa kecil dapat dipahami dan diatasi melalui proses ini.

Pretalk singkat:

"Dalam sesi ini, akan menelusuri akar perasaan negatif yang muncul dalam kehidupan sehari-hari, menemukan sumbernya dari pengalaman masa lalu, dan melepaskan emosi yang menahan kebahagiaan Klien. Tujuannya bukan untuk menyalahkan siapa pun, tapi untuk memberi Klien kedamaian, kekuatan, dan kemampuan untuk mencintai diri sendiri dan orang-orang di sekitar Klien."


2. Tujuan Terapi

  1. Menemukan akar masalah dari emosi negatif yang muncul: marah, takut, merasa dibenci.

  2. Mengidentifikasi luka inner child yang masih memengaruhi kehidupan sekarang.

  3. Melepaskan emosi negatif yang menahan kebahagiaan.

  4. Membangun perasaan damai terhadap diri sendiri dan orang lain, terutama ibu dan pasangan.

  5. Menata ulang relasi dan kehidupan sehari-hari dengan perspektif yang sehat.


3. Proses Penemuan Akar Masalah

  • Klien dibimbing ke keadaan relaksasi dan fokus pada perasaan yang muncul.

  • Proses penemuan akar masalah:

    1. Inner Child Exploration

      • Klien diarahkan untuk mengingat masa kecil, khususnya hubungan dengan ibu.

      • Terungkap bahwa klien sering dikucilkan, tidak dianggap, dimarahi secara berlebihan, dan bahkan pernah disekap.

      • Klien merasakan kesepian, ketakutan, dan ketidakberdayaan saat itu.

    2. Menghubungkan Masa Lalu dengan Masa Kini

      • Pikiran bawah sadar klien mulai menyadari pola yang terbentuk: rasa takut ditinggalkan, mudah marah, dan merasa orang lain membenci.

      • Klien juga menyadari bahwa emosinya terhadap pasangan saat ini sangat dipengaruhi oleh trauma masa kecil.


4. Proses Hipnoterapi

4.1 Pelepasan Emosi Negatif

  • Klien dibimbing untuk menghadapi setiap memori masa kecil tanpa rasa takut.

  • Emosi yang terpendam seperti marah, takut, dan sedih diungkapkan dalam lingkungan aman.

  • Klien diajak untuk melepaskan rasa bersalah atau dendam: 

    • Mengatakan “saya melepaskan” atau membayangkan emosi itu mengalir keluar dari tubuh.

  • Visualisasi: inner child dipeluk dan dirangkul, memberi rasa aman dan diterima.

4.2 Proses Memaafkan Penyebab Inner Child

  • Klien diarahkan untuk memaafkan ibu dan orang-orang yang pernah menyakiti.

  • Fokus pada pengertian bahwa pengalaman itu bukan kesalahan diri sendiri.

  • Pikiran bawah sadar mulai menerima bahwa klien layak dicintai dan diterima.

  • Perasaan lega dan damai muncul.

4.3 Hasil Sesi Awal

  • Klien merasakan:

    • Bebas dari emosi negatif yang menahan diri.

    • Lebih ringan, lebih lega.

    • Bisa melihat diri sendiri dari perspektif yang lebih penuh kasih.

  • Pikiran bawah sadar mulai menata ulang pola emosional secara perlahan.


5. Sesi Lanjutan: Memaafkan Diri Sendiri dan Menata Ulang Kehidupan

5.1 Memaafkan Diri Sendiri

  • Klien dibimbing untuk memahami bahwa tidak ada yang salah dengan dirinya.

  • Mengakui perasaan masa lalu tanpa menghakimi diri sendiri.

  • Latihan afirmasi: “Saya pantas dicintai, saya pantas bahagia, saya memaafkan diri saya.”

5.2 Menata Ulang Relasi

  • Fokus pada hubungan dengan pasangan dan anak:

    • Menyadari pola negatif yang muncul dari trauma masa kecil.

    • Menetapkan cara baru untuk berinteraksi dengan penuh kasih, sabar, dan pengertian.

  • Membuat keputusan sadar: menentukan batas sehat, cara mengekspresikan emosi dengan benar, dan membangun komunikasi yang lebih baik.

5.3 Penetapan Tujuan Hidup

  • Klien diminta memvisualisasikan kehidupan yang diinginkan:

    • Hubungan harmonis dengan pasangan dan anak.

    • Rutinitas sehari-hari yang penuh energi dan semangat.

    • Diri yang damai, kuat, dan penuh kasih.

  • Menetapkan langkah konkret untuk mencapai tujuan tersebut, seperti:

    • Latihan mindfulness atau meditasi rutin.

    • Latihan mengungkapkan perasaan tanpa menyalahkan.

    • Membuat rutinitas yang menyehatkan pikiran dan tubuh.

5.4 Hasil Akhir Sesi

  • Klien merasakan:

    • Kedamaian batin.

    • Kekuatan dan kejelasan dalam menghadapi hubungan dan kehidupan sehari-hari.

    • Kemampuan untuk mengontrol reaksi emosional.

    • Rasa kasih pada diri sendiri yang tumbuh lebih kuat.



Salam sehar

Rahayu dan berkelimpahan

Tina Hipnoterapis

Regulasi Emosi, Psikosomatik, dan Resolusi Bagian Diri



Laporan Kasus Hipnoterapi: Regulasi Emosi, Psikosomatik, dan Resolusi Bagian Diri


Seorang klien, sebut saja Ibu Bunga, datang dengan keluhan fisik berupa tubuh yang sering lemas, tidak bertenaga, dan beberapa bagian tubuh yang terasa sakit serta sulit digerakkan. Selain itu, ia juga mudah marah dan tersinggung terhadap anak-anaknya. Setiap kali emosi marah memuncak, tubuhnya terasa seperti kehilangan energi secara drastis hingga tidak mampu beraktivitas sebagaimana biasanya.

Ibu Bunga telah berkali-kali memeriksakan diri ke dokter, namun tidak ditemukan gangguan medis yang jelas. Ketika kondisi fisik dan emosinya semakin mengganggu, ia memutuskan mencoba hipnoterapi sebagai ikhtiar penyembuhan.


Proses Hipnoterapi

Dalam sesi hipnoterapi, ditemukan beberapa part diri (subpersonalities) dan introject—bagian dalam diri yang terbentuk dari pengalaman emosional, keyakinan, dan pengaruh lingkungan—yang memicu reaksi marah, rasa takut, dan kelelahan energi pada klien.

Pada tahap pendalaman, muncul beberapa wujud simbolik yang menggambarkan konflik emosional dan tekanan psikologis yang selama ini tidak terselesaikan. Simbol-simbol ini dapat berupa sosok perempuan maupun makhluk lain, yang dalam dunia terapi dipahami sebagai representasi metaforis dari trauma, ketakutan, dan energi emosional yang terpendam.

Dalam proses identifikasi, salah satu simbol tersebut menggambarkan figur wanita berusia sekitar 40 tahun yang “mengganggu” emosi klien. Ketika diperdalam, muncul pula figur yang kemudian terungkap sebagai representasi seorang pria tua yang membawa energi kemelekatan masa lalu—simbol dari konflik emosional yang diwariskan atau terinternalisasi dari lingkungan klien.

Figur-figur simbolik tersebut menunjukkan pola: energi emosional negatif muncul terutama ketika klien berada dalam kondisi marah, sehingga tubuh terasa semakin lemah.


Pendekatan Terapi

Terapi dilakukan dengan beberapa tahapan:

1. Identifikasi dan Klarifikasi Part

Hipnoterapis melakukan eksplorasi secara cermat untuk mengenali setiap part yang muncul, tujuannya, serta emosi yang dibawanya. Ketelitian dan kesabaran sangat diperlukan agar akar masalah benar-benar terurai.

2. Soul Conference (Dialog Internal)

Dilakukan dialog terapeutik yang aman dan terstruktur untuk:

  • Mengurai kemelekatan emosional masa lalu

  • Melepaskan simbol-simbol negatif yang membebani diri klien

  • Membantu setiap part yang muncul menemukan resolusi dan transformasi

Simbol figur “kakek tua” muncul sebagai metafora dari beban emosional yang kuat, termasuk perasaan terikat, dendam, dan konflik yang belum selesai. Setelah proses penyadaran dan pelepasan, figur ini secara simbolis "berdamai" dan melanjutkan perjalanannya—representasi dari penyelesaian emosi lama.

3. Pelepasan Energi Negatif

Melalui teknik screening dan pembersihan, energi-energi emosional yang terkait dengan hubungan klien dan anak-anaknya turut dinetralkan. Klien mengakui selama ini dirinya mudah terpancing emosi karena tekanan psikologis yang tidak disadari.

4. PKeS dan Integrasi Diri

Pancaran Kasih Energi Semesta (PKeS) digunakan sebagai pendekatan untuk:

  • Menenangkan sistem saraf

  • Membuka ruang kasih dalam diri

  • Mengurangi reaktivitas emosi

  • Menguatkan pusat kesadaran

5. Wisdom Therapy & Reintegration

Part-part yang sebelumnya terpecah diberi pemahaman baru, dipersatukan kembali, dan diperkuat melalui teknik Wisdom Therapy.

6. Direct Drive & Terminasi

Sugesti penguatan diberikan untuk membentuk pola emosi yang lebih stabil, sehat, dan protektif. Sesi diakhiri dengan terminasi yang baik dan grounding menyeluruh.


Hasil Terapi

Setelah seluruh proses tuntas, klien merasa:

  • Tubuh lebih ringan

  • Emosi lebih tenang

  • Pikiran lebih jernih

  • Hubungan dengan anak-anak terasa lebih lembut

  • Reaksi marah tidak lagi menguras energi

Klien menggambarkan dirinya merasa “plong”, seolah beban lama yang menekan selama bertahun-tahun akhirnya terlepas.


Penutup

Kasus Ibu Bunga menunjukkan bahwa:

  • Emosi yang tertahan dapat memengaruhi kondisi fisik (psikosomatik).

  • Konflik batin dan part diri yang tidak disadari bisa “berbicara” melalui tubuh.

  • Hipnoterapi dapat menjadi metode efektif untuk mengurai akar permasalahan, menyembuhkan luka emosional, serta memulihkan energi diri.

Semoga klien dapat mempertahankan kestabilan emosinya sebagai bentuk proteksi dari dalam, dan melanjutkan perjalanan hidup dengan kesehatan dan ketenangan yang lebih kuat.



TRANSFORMASI EMOSIONAL MELALUI HIPNOTERAPI - KASUS REAL




LAPORAN KASUS HIPNOTERAPI

1. Identitas Kasus

  • Nama Klien Utama: Tidak disebutkan (Ibu, usia ±50 tahun)

  • Pengganti Klien dalam Sesi: Anak perempuan/laki-laki (dewasa)

  • Domisili: Sebuah kota kecil di Pulau Jawa

  • Pengantar Kasus: Anak klien menghubungi via telepon dengan kondisi cemas, melaporkan perubahan perilaku drastis pada ibunya.


2. Alasan Rujukan

Keluarga meminta bantuan hipnoterapi untuk:

  • Mengetahui akar permasalahan perubahan perilaku ibu.

  • Membantu menstabilkan kondisi emosional ibu yang mengalami agitasi berat dan gejala menyerupai gangguan psikotik akut.


3. Gambaran Kondisi Klien Utama

Menurut laporan keluarga dan observasi awal:

3.1 Gejala yang Tampak

  • Perubahan perilaku mendadak

  • Marah-marah dan membentak

  • Menyanyi/berteriak keras tanpa kendali

  • Tatapan tajam penuh kemarahan

  • Agitasi dan disorganisasi perilaku

  • Tidak responsif terhadap instruksi

  • Belum menunjukkan perbaikan meski telah diberi obat penenang di RSJ

3.2 Durasi

± 24–48 jam sebelum panggilan pertama dilakukan.

3.3 Riwayat Keluarga & Lingkungan

  • Hubungan suami–istri penuh konflik dan kekerasan verbal.

  • Ayah dikenal tempramental dan dominatif.

  • Ibu mengalami stres kronis selama bertahun-tahun.

  • Anak-anak sering menyaksikan pertengkaran sejak kecil.

Konstelasi ini menunjukkan adanya paparan stres jangka panjang, trauma emosional, dan lingkungan tidak aman, yang menjadi faktor risiko kuat untuk:

  • Depresi berat

  • gangguan kecemasan

  • gangguan psikotik reaktif (brief psychotic disorder)


4. Pertimbangan Klinis

Karena kondisi klien utama (ibu) tidak kooperatif, tidak stabil, dan tidak dapat mengikuti instruksi, hipnoterapi langsung tidak dapat dilakukan.

Pertimbangan keamanan dan etika:

  • Hipnoterapi memerlukan relaksasi terstruktur dan kemampuan mengikuti arahan.

  • Klien dalam keadaan psikotik akut tidak boleh langsung dihipnoterapi.

  • Keselamatan dan stabilisasi medis tetap prioritas.


5. Intervensi: Hipnoterapi pada Anggota Keluarga

Diputuskan untuk melakukan hipnoterapi pada salah satu anak yang:

  • Memiliki kedekatan emosional tinggi dengan ibu.

  • Mengalami reaksi stres sekunder.

  • Dapat membantu menggali dinamika keluarga dan pemicu stres.

Sesi ini dilakukan dengan kehadiran seluruh anggota keluarga sebagai saksi.


6. Tujuan Hipnoterapi pada Anak

  1. Mengakses persepsi, pengalaman, dan memori traumatis yang berkaitan dengan kondisi ibu.

  2. Mengidentifikasi pola stres keluarga.

  3. Menemukan pemicu psikologis yang berkontribusi pada kondisi ibu.

  4. Membantu menurunkan kecemasan keluarga agar tidak memperburuk keadaan.


7. Hasil Temuan dalam Sesi Hipnoterapi

7.1 Faktor Pemicu Utama

Sesi hipnoterapi mengungkap bahwa:

  • Sang Ibu hidup dalam tekanan mental berkepanjangan akibat kekerasan emosional dari suami.

  • Terdapat akumulasi stres tidak terselesaikan selama bertahun-tahun.

  • Kondisi emosional ibu runtuh seketika setelah beban psikologis mencapai batasnya.

  • Anak memiliki keterikatan emosional tinggi sehingga turut membawa beban psikologis keluarga.

Kesimpulan sementara: Episode psikotik akut berpotensi dipicu oleh stres berat, trauma domestik, kelelahan mental, dan lingkungan penuh konflik.

7.2 Respons Emosional Anak

  • Anak menunjukkan gejala stres sekunder.

  • Terdapat tekanan emosional karena menyaksikan kondisi ibu sejak kecil.

  • Sesi hipnoterapi membantu menurunkan intensitas kecemasan dan meningkatkan kejernihan emosional.


8. Rencana Terapi & Proses Pemulihan

8.1 Proses Hipnoterapi

Hipnoterapi dilakukan dalam 4 sesi untuk:

  • Menata ulang respons emosional keluarga.

  • Mengurai beban psikologis yang saling terkait.

  • Membantu keluarga mengelola stres dan mendukung pemulihan ibu.

8.2 Pendampingan Medis

  • Klien utama tetap berada dalam perawatan RSJ selama proses awal.

  • Hipnoterapi dilakukan sebagai pendamping, bukan pengganti terapi medis.

8.3 Langkah-langkah yang Ditekankan

  • Menciptakan lingkungan rumah yang aman dan minim konflik.

  • Mengurangi paparan stres baru.

  • Edukasi keluarga terkait cara menghadapi relaps atau agitasi.

  • Dukungan emosional berkelanjutan kepada klien utama.


9. Perkembangan Klien Utama

Setelah 4 hari intervensi terpadu (obat, stabilisasi lingkungan, hipnoterapi keluarga):

  • Ibu menunjukkan perbaikan signifikan.

  • Agitasi menurun.

  • Intensitas kemarahan berkurang.

  • Dapat kembali berkomunikasi lebih koheren.

  • Dinyatakan cukup stabil untuk kembali ke rumah.

Keluarga melanjutkan proses pendampingan secara rutin.


10. Rekomendasi Lanjutan

  1. Terapi psikologis berkelanjutan (CBT/REBT/trauma healing).

  2. Konsultasi psikiatri berkala untuk memantau kemungkinan gangguan psikotik atau depresi berat.

  3. Hipnoterapi lanjutan bila diperlukan untuk regulasi emosi dan trauma.

  4. Pendidikan keluarga mengenai manajemen stres, komunikasi sehat, dan pencegahan kekambuhan.

  5. Menciptakan lingkungan yang aman, stabil, dan bebas kekerasan.



“Terperangkap, Tersentuh, Terlepas: Perjalanan Seseorang dalam Sesi Hipnoterapi”

 Inilah sepotong kisah dari sebuah sesi hipnoterapi—perjalanan menyembuhkan luka batin, memperbaiki relasi dengan masa lalu, dan memahami dinamika spiritual yang memengaruhi hidup seseorang.





Kisah Maman: Luka Masa Kecil, Amarah yang Mendidih, dan Jalan Pulang ke Kedamaian

Maman (nama samaran), pemuda 23 tahun, datang dengan keluhan yang makin berat dalam beberapa minggu terakhir. Emosinya meledak hanya karena hal kecil, dan setiap kali berada dalam situasi mendesak, muncul dorongan gelap: keinginan mengakhiri hidup.

Memasuki Luka Usia Tiga Tahun

Dalam sesi hipnoterapi, Maman dibimbing masuk ke gelombang otak tetha. Di sana ia melihat dirinya kecil—usia tiga tahun—menangis, tubuhnya penuh rasa sakit, wajahnya meringis ketakutan.

Maman kecil sedang disiksa oleh ayahnya.

Dalam momen itu, terungkap bahwa ayahnya sedang tertekan masalah ekonomi. Amarahnya meledak pada anak yang tidak tahu apa-apa. Maman kecil dipukul, diikat, dan tidak pernah memahami apa kesalahannya. Bahkan ia melihat ibunya yang bekerja keras pun sering menjadi korban kemarahan ayahnya.

Maman akhirnya berbicara pada sosok ayah di dalam memorinya:

“Papa, kenapa memukul aku? Aku sakit, seluruh tubuhku sakit. Kenapa papa benci aku? Kenapa papa juga pukul mama? Papa baik ke orang lain, tapi kok kasar ke kami?”

Luka itu membentuk kehidupannya. Karena ayahnya adalah tokoh agama, tindakannya yang penuh kekerasan membuat Maman tumbuh dengan ketidakpercayaan pada agama dan simbol-simbolnya.

Kemampuan Memaafkan dan Membersihkan Luka

Melalui proses hipnoterapi—part therapy dan teknik “pengecilan diri” untuk membersihkan trauma—emosi tajam yang tadinya seperti pisau di dada perlahan menjadi ringan. Maman akhirnya bisa memaafkan ayah yang kini sudah tua.

Setelah re-check, proses ini selaras dengan Mind, Body, dan Soul.

Part Therapy dan Wisdom Therapy

Dua bagian diri yang menjadi sumber masalah—Si Marah dan Si Minder—selesai diharmonisasikan.

Dalam Wisdom Therapy, muncul pesan tentang hubungan Maman dengan pacarnya yang berbeda agama. Kebijaksanaan batinnya menyarankan hubungan itu sebatas pertemanan saja: selain perbedaan keyakinan, sang pacar memiliki sifat mengatur dan otoriter, sedangkan Maman tidak bisa hidup dalam tekanan.

Pertemuan Dengan Sosok Kakek

Dalam proses terapi, muncul informasi lain: ada sosok kakek dari pihak ayah yang mengikuti dan menjaga Maman.

Kakek ini memperkenalkan diri sebagai Mualakulung, meninggal tahun 2007, pernah tinggal di Kalimantan. Ia menjaga Maman karena kakaknya—Pamannya Maman—masih suka menyerang keluarga mereka dengan ilmu hitam.

Dulu, ketika ayah Maman masih tinggal di kampung, ia banyak menolong orang yang bermain ilmu magis. Karena itu, ada banyak konflik spiritual yang tersisa.

Kakek Mualakulung tidak mewariskan harta, tetapi menurunkan ilmu putih, yang bekerja bukan dengan roh, melainkan dengan energi ketenangan hati. Cara kerjanya: ketika Maman diserang, ilmu itu melunakkan hati orang yang berniat jahat, membuat amarahnya lumpuh.

Kakek mengungkapkan bahwa pamannya masih terus menyerang, dipicu utang 2 miliar yang tidak bisa dibayar, kecemburuan, dan iri hati pada kehidupan keluarga Maman. Meski tidak lagi ditagih, kebencian tetap ada.

Peran Maman dan PKeS

Kakek meminta Maman memperkuat dirinya dengan PKeS—Pancaran Kasih energi Semesta—sekaligus tetap mendoakan pamannya. Meskipun paman keras hati dan tak mau bertobat, doa tetap menjadi bagian dari perlindungan spiritual.

Kakek berjanji akan terus menjaga Maman, namun kini Wisdom-lah yang akan membimbing langkah hidup Maman lebih aktif.

Maman kemudian diprogram untuk membuat shield diri menggunakan teknik PKeS. Setiap kali Maman berdoa, energi itu bekerja otomatis menetralisir serangan apa pun.


Penutup

Semoga kita semua senantiasa diberi kesehatan, kelimpahan, dan perlindungan.

RAHAYU ðŸŒ¿

SOUL HEALING - Dalam Hipnoterapi

Konflik Pernikahan, Energi Internal, dan Transformasi Melalui Hipnoterapi. (Kasus Pak Putra (Nama Samaran).


Pak Putra, seorang ayah dengan dua anak kecil, datang untuk menjalani sesi hipnoterapi dengan membawa beban konflik rumah tangga yang sudah berlangsung lama. Ia meyakini bahwa istrinya menjalin hubungan dengan rekan kerja, karena beberapa kali melihat keduanya pulang bersama di luar jam kerja. Meskipun sering ia tuding, sang istri tidak pernah mengakui adanya perselingkuhan. Situasi ini memicu pertengkaran berulang yang hampir selalu berujung pada keinginan sang istri untuk bercerai.

Berbeda dengan istrinya, Pak Putra tetap ingin mempertahankan rumah tangga mereka. Ia berpegang pada keyakinan bahwa pernikahan adalah ikatan suci yang tidak seharusnya diputuskan oleh manusia. Karena itu, ia menolak permintaan cerai dan berusaha dengan berbagai cara agar hubungan keluarga tetap bertahan.

Proses Hipnoterapi: Hambatan Emosional dan Energi Internal

Dalam sesi hipnoterapi, Pak Putra awalnya mengalami kesulitan memasuki kondisi trance. Ada blokade kuat yang terasa menghambat proses. Ketika saya menanyakan apakah ada sesuatu yang mungkin menjadi penghalang, Pak Putra sempat terdiam. Namun ketika ia bersedia melanjutkan instruksi, ia mendadak merasakan sakit hebat di kepala dan dada hingga membuatnya terkejut dan terbangun.

Setelah saya menanyakan kemungkinan adanya bentuk perlindungan spiritual atau ritual tertentu yang pernah ia lakukan, barulah Pak Putra mengakui bahwa ia memiliki (pengakuannya) sebuah *kodam* yang diberikan untuk melindungi dirinya. Dengan pendekatan yang tepat, akhirnya ia bersedia melepaskan energi tersebut, meskipun ia tidak tahu bagaimana caranya.

Saya kemudian memandu kembali proses masuk ke kondisi trance. Setelah melewati beberapa hambatan, Pak Putra berhasil mencapai gelombang otak Theta menuju Delta—kondisi paling dalam yang memungkinkan akses ke berbagai aspek energi internalnya. Di sini, muncul sosok yang mengaku sebagai leluhur yang telah meninggal ratusan tahun lalu, yang dulunya “dimasukkan” ke dalam diri Pak Putra melalui sebuah ritual oleh anggota keluarganya. Setelah melalui dialog terapeutik, sosok tersebut akhirnya bersedia melepaskan keterikatannya dan “kembali menuju Cahaya.”


Mengungkap Akar Masalah: Emosi, Perselingkuhan, dan Luka Batin

Ketika proses hipnoterapi dilanjutkan untuk mengidentifikasi akar konflik pernikahan, ditemukan beberapa aspek yang saling berkaitan:

  1. Sikap kasar dan emosional. Energi dari kodam yang melekat pada Pak Putra memperkuat sifat dasar emosionalnya sehingga ledakan amarah lebih mudah muncul. Hal ini memperburuk interaksi dengan istrinya.
  2. Perselingkuhan di masa lalu. Dorongan energi tersebut juga membuat Pak Putra terjerumus dalam perselingkuhan dengan seseorang yang bekerja sebagai pembantunya. Sang istri mengetahui hal ini. Walaupun mereka sempat menyelesaikannya secara damai dan saling memaafkan, luka di hati istrinya ternyata tertanam sangat dalam.
  3. Luka batin yang tidak sembuh. Dalam alam bawah sadar istrinya, tersimpan perasaan tidak dihargai, tidak dianggap, dan terus-menerus disakiti. Setiap kali melihat suaminya, luka itu kembali terbuka, menciptakan rasa benci yang tumbuh perlahan namun pasti.
  4. Menjauh secara emosional maupun fisik. Karena tekanan batin, istrinya mulai menghindar, lebih sering berkeluh kesah kepada teman kerjanya, dan tidak lagi pulang tepat waktu. Ia juga mulai tidak menjalankan perannya sebagai istri sebagaimana biasanya—baik dalam urusan rumah tangga maupun hubungan suami istri.

Kecurigaan Pak Putra mengenai perselingkuhan justru memperbesar jarak antara keduanya. Tuduhan tersebut memicu pertengkaran hebat yang membuat istrinya semakin mantap untuk meminta perceraian karena merasa terus disalahkan.


*Soul-to-Soul Therapy: Pilihan Jiwa Sang Istri

Melalui soul-to-soul therapy, jiwa sang istri menunjukkan satu keputusan yang berulang: keinginan untuk berpisah terlebih dahulu. Baginya, jarak adalah jalan yang paling netral dan aman—baik untuk dirinya maupun untuk kemungkinan memperbaiki hubungan dalam jangka panjang. Keputusan itu bukan karena ingin menghancurkan pernikahan, tetapi karena ia membutuhkan ruang untuk memulihkan diri dari luka yang telah terlalu lama ia pendam.

*Pelajaran Penting dari Kasus Ini
  • Kesucian pernikahan adalah tanggung jawab bersama. Pernikahan adalah pilihan sadar yang kita buat. Karena itu, jagalah dengan penuh kesadaran dan tanggung jawab. Jangan menyalahkan siapa pun atas pilihan yang kita ambil sendiri. 
  • Hindari ketergantungan pada energi atau entitas spiritual apa pun. Penggunaan “kodam” atau bentuk perlindungan non-ilmiah lainnya dapat memengaruhi kondisi emosi, pikiran, bahkan kualitas hidup secara keseluruhan. Energi semacam ini dapat mengacaukan keharmonisan keluarga, rezeki, kesehatan, serta keseimbangan jiwa. 
  • Berlindunglah hanya pada Tuhan Yang Maha Esa. Perlindungan ilahi tidak memiliki pamrih dan tidak membawa dampak negatif bagi kejiwaan. 
  • Selesaikan apa yang pernah Anda mulai.  Apa yang telah Anda ikrarkan di hadapan Tuhan adalah amanah. Bila ada masalah, hadapilah dengan kesadaran, bantuan profesional, dan niat untuk memperbaiki diri.

*Semoga sharing kasus diatas, kita semua dapat belajar banya hal dan semakin memahami bahwa perjalana kehidupan ini selalu bersandar pada kasihNya hanya padaNya kita berlindung.
Salam Bahagia.

“Ketika Jiwa Tak Lagi Utuh”

 


HIPNOTERAPI & HIPNO -MEDIUM

Ketika jiwa tak lagi utuh, hidup pun terasa gelap.

Ada klien yang seumur hidup selalu bingung menentukan pilihan. Ia mencoba hipnoterapi berkali-kali, tetapi tidak merasakan apa-apa—hanya kegelapan yang menutup pandangan batinnya. Ia bahkan tidak bisa melihat dirinya sendiri.

Melalui Hipno-Medium, barulah ditemukan akar masalahnya:
sebagian jiwanya tidak berada di tubuhnya, melainkan ikut bersama roh ayahnya di wilayah Laut Selatan, terikat oleh perjanjian leluhur. Karena cintanya pada sang ayah, bagian nurani itu ikut terseret saat ayahnya meninggal.

Inilah yang membuat ia sulit fokus, tidak bisa masuk kondisi deep, dan merasa ada bagian dirinya yang hilang.

Dengan izin Semesta, medium terhubung dengan penjaga wilayah tersebut, dan melalui teknik PKeS serta metode Soul Designs dari buku “Desain Jiwa”, dilakukan proses pelepasan, negosiasi, dan penarikan kembali bagian jiwa yang tercecer.

Kapan Hipno-Medium dibutuhkan?

  • Saat klien selalu melihat gelap/kosong dan tidak merasakan apa-apa.

  • Ketika terasa ada bagian diri yang hilang atau tidak utuh.

  • Saat ada pengaruh energi atau perjanjian tertentu yang mengikat jiwa.

Setelah jiwa kembali utuh, barulah hipnoterapi bisa berjalan optimal—membantu klien menemukan arah hidup, ketenangan, dan kejelasan batin.

Salam Sehat, Rahayu.

☯️





"21 Tahun Terbelenggu: Perjalanan Membebaskan Jiwa dari Trauma dan Energi Negatif”

 

Sebuah Perjalanan Menemukan Kedamaian Batin

Seorang ibu berusia 45 tahun datang menjalani rangkaian hipnoterapi setelah bertahun-tahun hidup dalam kecemasan. Ia pernah dua kali dirawat di RSJ selama tiga bulan, dan hingga kini masih bergantung pada obat penenang. Rasa takut yang berlebihan telah membatasi hidupnya dan membuatnya sulit menjalani hari dengan tenang.


Akar Luka Emosional yang Bertahun-Tahun Terkubur

Melalui beberapa sesi terapi regresi, lapisan demi lapisan emosinya mulai terkuak. Ia tumbuh dalam keluarga yang tidak harmonis: orang tuanya bercerai, ayahnya meninggal dunia, dan kini ibunya pun sedang sakit keras. Semua itu menumpuk menjadi rasa bersalah, kecemasan, serta ketidakstabilan emosi yang sering muncul sebagai kemarahan dan ketakutan mendalam.

Membersihkan Energi Negatif: Proses Bertahap dari Sesi ke Sesi

Pada setiap sesi hipnoterapi, berbagai energi negatif yang menumpuk dari masa lalu mulai dinetralisir menggunakan Part Therapy dan Soul Chair Therapy, hingga akhirnya ia mencapai tahap Forgiveness.
Namun pada sesi lanjutan, ditemukan sesuatu yang lebih dalam:
sebuah introject, entitas astral yang masuk ke dalam dirinya sekitar 21 tahun lalu. Introject ini memperkuat ketakutannya, terutama saat ia sakit atau merasa terancam akan dirawat kembali di RSJ.

Sosok ini berhasil diidentifikasi dan, melalui proses khusus, dilepaskan dari diri klien agar dapat melanjutkan perjalanan ke tempat yang seharusnya.

Ketika Luka Trauma Menarik Energi Serupa

Dalam banyak kasus hipnoterapi, emosi negatif yang sudah lama tersimpan sering menjadi magnet bagi entitas astral dengan vibrasi yang sama. Energi ini tidak hanya menambah beratnya beban emosional, tetapi juga memperkuat luka yang ada.
Jika tidak dilepaskan dengan teknik yang tepat, entitas tersebut dapat menjadi anchor yang menarik jiwa klien kembali ke vibrasi trauma.

Melalui beberapa sesi yang dilakukan secara konsisten, seluruh energi negatif dinetralisir dan dikembalikan ke tempat masing-masing, memberi jalan bagi klien untuk kembali pada dirinya yang lebih utuh.

Kelahiran Baru Sebuah Kedamaian

Pada sesi terakhir, klien bangun dengan perasaan lega dan damai—sesuatu yang sudah lama tidak ia rasakan. Trauma yang selama ini menghantuinya telah terurai, memberikan harapan baru untuk kehidupan yang lebih stabil, harmonis, dan penuh ketenangan.


Pelajaran untuk Kita Semua

Kesembuhan emosional bisa terjadi dalam sekali sesi, namun banyak kasus juga yang membutuhkan beberapakali sesi, ini sangat tergantung sugestible PBS nya.

Kasus diatas membutuhkan beberapa kali sesi terqapi.

Perjalanan ini menunjukkan betapa pentingnya proses bertahap: membuka luka yang terpendam, membersihkan energi yang melekat, dan mengembalikan bagian diri yang hilang.

Ketika kita bersedia menjalani prosesnya—sesi demi sesi—kita membuka pintu menuju kehidupan yang lebih utuh, lebih ringan, dan lebih bahagia.

Salam Rahayu 💓💓💓

The Branz - BSD, 31 Mei 2024

Meditasi PKeS: Menyelaraskan Batin, Pikiran, dan Energi

PANDUAN MELAKUKAN PKES



Dalam Keheningan

Ambil posisi nyaman ... senyaman mungkin.

Tarik napas perlahan… dan biarkan diri memasuki ketenangan.

Sekarang, rasakan energi kasih Tuhan memancar dari pusat jiwamu yang paling dalam.
Mungkin terasa hangat… mungkin sejuk… atau mungkin ada getaran halus yang menyentuh hati.
Apa pun sensasinya — selama disertai rasa damai — itulah energi Kasih Tuhan, energi Kasih Semesta, yang mulai hadir dalam dirimu.

Bayangkan energi kasih itu turun lembut dari atas kepala,
melewati leher,
menyusuri tulang belakang hingga tulang ekor,
terus turun sampai ke telapak kaki.

Kemudian biarkan ia naik kembali melalui betis, lutut, perut, dan bertemu dengan cahaya Kasih Tuhan yang memancar dari hatimu sendiri.
Di titik ini, kasih Tuhan sepenuhnya mengisi dirimu — menyatukan pikiran, hati, dan tubuh dalam perlindungan-Nya.

Rasakan energi itu terus naik, melewati leher, dahi, kepala, dan kembali ke titik di atas kepala.
Kini seluruh dirimu berada di dalam penjagaan energi Ilahi yang murni.


Menjadi Saluran Energi Kasih Tuhan

Sekarang, bayangkan dirimu sebagai pipa, sebagai saluran, sebagai wadah yang jernih tempat energi Kasih Tuhan mengalir.

Biarkan energi kasih ini terpancar:
melalui hati,
melalui telapak tangan,
melalui dahi,
bahkan melalui setiap pori-pori tubuhmu.

Arahkan energi itu kepada saudara atau sahabat yang sedang kau fokuskan dalam PKeS.

Biarkan energi kasih Tuhan:

  • menyentuh bagian dalam diri mereka yang sedang sakit,

  • menarik keluar residu-residu energi negatif,

  • melepaskan cengkeraman energi gelap,

  • membawa pulang jiwa-jiwa alam antara yang sebelumnya dimanfaatkan untuk menyakiti mereka, kembali ke Cahaya-Nya.

Biarkan energi kasih Tuhan juga melindungi bagian yang sehat — tubuh, hati, dan pikiran mereka — agar tetap kuat dan tetap dalam naungan Ilahi.

Dan di atas semua itu, biarkan jiwamu berserah sepenuhnya.
Izinkan diri menjadi saluran murni bagi Kasih Tuhan.
Biarkan cara Tuhan yang terbaik terjadi pada saudara dan sahabat yang sedang kita PKeS.


(hening sejenak / musik lembut mengalun)


Syukur & Terima Kasih

Tarik napas panjang… tahan… lalu hembuskan perlahan.

Kita bersyukur dan berterima kasih karena Tuhan, Sang Semesta, telah memperkenankan diri kita menjadi saluran energi kasih-Nya bagi kebaikan saudara dan sahabat yang sedang kita doakan.


Direct Drive

Tanamkan dalam pikiran, hati, dan tubuh kita:
Setiap PKeS yang dilakukan dengan ketulusan selalu membuahkan kebaikan.
Energi kasih Tuhan selalu menemukan jalannya.


Note:

“Ketika Energi Kasih-Nya mengalir dengan benar, tubuh kita memancarkan cahaya lembut yang bukan berasal dari diri kita, melainkan dari-Nya. Kita tetap hening, tetap tulus, dan hanya menjadi wadah yang menerima serta memantulkan kasih itu.”

 Pancaran Kasih Energi Semesta (PKES)

Pancaran energy kasih semesta adalah teknik "menemukan Tuhan dalam segala, dan segala dalam Tuhan" sesuai dengan pengalaman batin Inigo Loyola. Dalam tulisannya, Santo Inigo menulis tentang "kontemplasi untuk mendapat cinta". Menurutnya, hanya manusia yang mempunyai pengalaman dicintai oleh Tuhan dapat membagikan kasih dan cinta Tuhan kepada sesamanya dan semesta. Kasih Tuhan dialami dalam pengalaman yang dekat dengan kehidupan sehari-hari orang tersebut. Berdasar pengalaman dikasihi tersebut, seseorang akan mengembalikan energy kasih yang dialami dan dimilikinya kepada orang lain atau semesta. Itu sebabnya Inigo mengatakan bahwa Cinta adalah kondisi menerima dan memberi dari kedua belah pihak. Pihak yang dicintai dan mencintai. Dan pancaran dari kasih ini oleh kita dipancarkan kepada siapapun dan apapun baik yang baik maupun yang jahat. Pada saat memancarkan kasih ini hanya ada kasih itu sendiri dan kepasrahan bahwa energy kasih akan bekerja.

A. Pengertian:

Pancaran Kasih energi Semesta. Yang hendak ditekankan adalah Kasih Semesta atau kasih Tuhan itu Energi. Powernya bisa kita rasakan di dalam diri kita masing-masing.

Wujud getaran energi yang dirasakan. Wujud ini terasa dalam diri Anda, sesuai dengan karakter Anda dan bagaimana Anda merasa nyaman dengan wujud energi kasih-Nya yang Ada rasakan.

  • a. Seperti gelombang cahaya yang memancar.
  • b. Seperti gelombang udara yang menyebar.
  • c. Seperti air sejuk yang mengalir
  • d. Tidak seperti apapun namun terasa memancar dalam hati.

Anda bebas memberi gambaran kasih energi-Nya ini seperti apa, namun rasa anda mesti mengenal dan merasakan bahwa yang Anda pancarkan sungguh kasih energi-Nya.

B. Posisi diri saat melakukan PKeS.

Diri adalah saluran, pipa atau sarana dari kasih energi semesta yang terpancar. Meski seolah diri kita yang memancarkan namun sesungguhnya semesta / Tuhan sendiri yang memancarkan energi kasih- Nya. Sikap kita pada saat PKeS ini hanya sumeleh, berserah diri.

C. Bagaimana Kasih energi-Nya memancar?

Pertama, bisa muncul dari diri terdalam Anda di cakra jantung atau hati Anda. Dari dalam energi-Nya memancar keluar. Jika untuk diri sendiri, alirannya memancar dari hati lalu naik ke atas sampai ujung rambut. Lalu turun lagi dari kepala, badan, tangan dan kaki. Lalu naik lagi dan berpusat kembali di hati.

Kedua, bisa muncul dari alam semesta ini. Energi itu masuk melalui cakra mahkota atau kepala kita, turun melalui tulang belakang sampai ke ujung kaki, lalu naik ke atas melewati cakra seks, naik lagi melewati cakra solar plexusya atau perut kita. Naik lagi menuju cakra jantung atau hati. Energi berputar-putar di situ. Lalu naik melewati cakra tenggorokan dan berpusat di cakra Ajna atau kening kita. Lalu, energi itu jika mengalir keluar, pintu mengalirnya adalah dari hati kita, telapak tangan dan cakra Ajna atau titik tengah kening kita.

Ketiga, gabungan dari dalam hati yang memancar dan dari semesta yang masuk. Proses masuk bisa seperti di atas, atau langsung merasakan saja di hati kasih energi-Nya sebelum terpancar keluar. Pancaran keluarnya bisa lewat kening, telapak tangan dan hati bagian tubuh kita. Atau dari setiap sudut

D. Ciri atau tanda kasih Energi-Nya yang kita rasakan.

Pertama kita merasa rileks, santai, tenang dan damai. Pikiran masuk dalam suasana rileks, santai, tenang dan damai tersebut. Kedua, fisik khususnya di hati, telapak tangan dan kepala terasa hangat, sejuk atau lembut.

____________________________________________________________________________________

 PRINSIP DASAR PKeS

Makna Doa & Dasar PKeS (Pancaran Kasih Energi Ilahi)

Doa adalah momen ketika seseorang memasuki kondisi mirip hipnosis alami—gelombang otak turun dari Beta menuju Alfa dan Theta. Dalam kondisi lembut ini, pikiran menjadi fokus, hati lebih terbuka, dan tubuh ikut selaras. Di titik inilah afirmasi dan permohonan dapat tersampaikan dengan kuat kepada Semesta, dan potensi terkabulnya menjadi lebih nyata.

Dalam keheningan seperti ini, setiap kata dari pikiran, hati, dan tubuh menyatu. Ketiganya bekerja bersama: fokus, tulus, dan pasrah. Inilah kunci agar doa dan afirmasi benar-benar mengalir ke tujuan.

Dalam doa, Anda dapat menyebut siapa pun—keluarga, saudara, sahabat, ataupun jiwa-jiwa yang tidak dikenal: mereka yang meninggal karena bencana alam, peperangan, kecelakaan, kekerasan, pembunuhan, hingga mereka yang wafat secara tidak wajar. Luangkan 5–10 menit hening; biarkan doa Anda menjadi jembatan kasih.


Prinsip Dasar PKeS: Pancaran Kasih Energi Ilahi

1. Persiapan: Niat yang Tulus

Sebelum memulai, arahkan diri pada satu tujuan dengan penuh ketulusan. Libatkan pikiran, hati, dan tubuh sepenuhnya. Percaya—bukan 100%, tapi seribu persen—bahwa Tuhan dan Semesta mendengar dan akan memudahkan jalan.

2. Saat Memulai PKeS: Lepaskan Permohonan

Begitu memasuki PKeS, tinggalkan permintaan Anda. Yang tersisa hanyalah kepasrahan. Biarkan diri menjadi saluran murni dari energi kasih Tuhan, tanpa kendali dan tanpa tuntutan.

3. Rasakan Kasih-Nya dalam Diri

Sadarilah bahwa energi yang mengalir dari Anda bukan berasal dari diri Anda. Yang memancar, menyebar, dan mengalir adalah kasih-Nya. Anda hanya wadah yang menyalurkannya.

4. Lakukan dari Ruang Kasih

Esensi energi Ilahi adalah cinta yang menyembuhkan. Maka lakukan PKeS dalam suasana hati penuh kasih—bahkan kepada orang yang pernah melukai Anda. Jika muncul rasa selain kasih, dan Anda merasakan ego ikut bergerak, segera hentikan dan beralih ke doa biasa.

5. Tidak Ada Batasan Waktu

PKeS dilakukan setulus mungkin, tanpa paksaan. Jika mulai terasa sebagai kewajiban atau beban, akhiri dengan lembut dan lanjutkan dengan doa biasa. Ketulusan adalah jantungnya.

6. Energi Mengikuti Pikiran

Walaupun Anda tidak mengarahkan kemana energi itu harus mengalir, prinsip alam tetap bekerja: energy follows the mind. Energi akan bergerak menuju tujuan yang Anda tetapkan saat persiapan—tempat di mana keyakinan Anda berada.


💓💓❄️❄️💓💓




 PERJALANAN PULANG 



Membantu Jiwa Melanjutkan Perjalanan Pulang

Kita yang masih memiliki tubuh fisik dapat bergerak, memilih, dan berjuang selama tubuh ini sehat dan kuat. Namun bagaimana dengan mereka yang sedang sakit, terbatas, atau bahkan sudah tidak lagi memiliki tubuh fisik karena kematian?

Di sinilah hukum Semesta bekerja: yang kuat menolong yang lemah, yang sehat menolong yang sakit, dan yang masih berinkarnasi membantu yang telah melampaui tubuh fisik.

Tulisan ini mengajak kita memahami bagaimana menolong jiwa-jiwa alam antara — jiwa yang belum sepenuhnya melanjutkan perjalanan Pulang. Kematian adalah perubahan besar yang tak bisa dicegah, dan setiap makhluk yang lahir pasti akan mengalaminya. Namun meski tubuh berakhir, jiwa tetap abadi — entah ia pernah menjadi manusia yang baik ataupun buruk. Hanya tubuh fisik yang kembali ke tanah; jiwa kembali melanjutkan perjalanan.

Pertanyaan besarnya:
Setelah tubuh dikuburkan, ke mana jiwa pergi?
Penjelasan berikut, disarikan dari pengalaman Heri Siswanto dalam membantu banyak jiwa secara spiritual dan melalui teknik Hipnoterapi, memberi gambaran tentang hubungan Tubuh, Jiwa, dan Roh — serta bagaimana manusia dapat membantu jiwa-jiwa alam antara melalui PKeS.


Tubuh, Jiwa, dan Roh

1. Perasaan : Ekspresi Murni dari Jiwa

Jiwa memiliki kebebasan tersendiri, bahkan saat ia menyatu dengan tubuh. Ia dapat merasakan sakit, sedih, senang, kecewa, takut, maupun gembira. Semua perasaan manusia adalah jendela bagi jiwa itu sendiri.

Perasaan-perasaan ini hidup, bergerak, dan dapat diajak berkomunikasi. Luka batin yang belum terselesaikan muncul sebagai:

  • rasa marah,

  • takut,

  • sedih,

  • kecewa,

  • atau perasaan negatif lainnya.

Melalui soul talk — dialog batin — seseorang dapat mengajak perasaan ini berbicara untuk mengetahui sumber luka dan cara menyembuhkannya. Perasaan positif pun bisa diajak berdialog untuk memahami sisi bijak dan indah dari jiwa.

Jiwa, dengan segala kompleksitasnya, adalah tempat pengalaman hidup tersimpan dan terekspresikan.


2. Roh: Jatidiri Sejati

    Roh adalah inti terdalam manusia, bagian yang selalu terhubung dengan Sang Pencipta atau    Semesta. Ketika manusia meninggal, jiwa kembali menyatu dalam Roh, membawa memori kehidupan yang telah dijalani.

Roh memberi:

  • kemampuan spiritual,

  • kesadaran lebih tinggi,

  • intuisi,

  • serta dorongan untuk kembali pada sifat agung dan luhur manusia.

Roh melampaui batas doktrin dan dogma. Ia tidak terkurung oleh ajaran apa pun. Secara energi, Roh adalah entitas tinggi yang memungkinkan manusia menyembuhkan diri melalui apa yang dikenal sebagai Divine Healing atau PKeS — Pancaran Kasih Energi Semesta.

Dalam healing ini, manusia hanya menjadi sarana: pasrah, sumeleh, dan membiarkan Tuhan bekerja melalui dirinya.


PKeS: Pancaran Kasih Energi Semesta

PKeS adalah proses menemukan Tuhan dalam segala, dan menemukan segala dalam Tuhan.

Hanya seseorang yang pernah mengalami kasih Tuhan secara nyata yang dapat memancarkan kasih itu kembali kepada sesama dan Semesta. Kasih Tuhan hadir melalui pengalaman hidup sehari-hari, melalui hal-hal sederhana yang menyentuh hati.

Ketika seseorang menerima kasih itu, ia terdorong untuk memancarkannya kembali — kepada siapa pun:
yang baik, yang jahat, yang sehat, yang sakit, bahkan kepada yang telah melukai dirinya.

Saat memancarkan kasih, satu hal yang tersisa hanyalah kasih itu sendiri — bukan ego, bukan dendam, bukan harapan pribadi.


Tahapan Memancarkan Kasih Energi Semesta

1. Doa dan Niat

    Mulai dengan doa atau memusatkan pikiran pada tujuan PKeS.

2. Pengaktifan Jalur Energi Kasih (Opsional)

    Beberapa praktisi menggunakan teknik khusus untuk membuka aliran energi.

3. Relaksasi

    Masuk ke gelombang otak Alfa–Theta, kondisi di mana keheningan batin muncul.

4. Mengalami Energi Tuhan

  • Setelah rileks, izinkan kasih Tuhan mengalir ke dalam diri.
  • Fokuskan pada cakra jantung (pusat hati), lalu biarkan energi itu menyebar ke seluruh tubuh.
  • Ciri seseorang mulai merasakan energi Tuhan:

    1. Hati terasa hangat.
    2. Batin terasa damai.
    3. Ada kepasrahan total, tanpa ekspektasi apa pun.

5. Memancarkan Energi Kasih

  • Ketika kasih itu telah dirasakan, pancarkan melalui hati atau telapak tangan.
  • Imajinasikan energi Ilahi mengalir keluar — lembut, jernih, ringan — mengikuti arah niat awal Anda.
  • Lepaskan pikiran seperti:
  • “Ini energiku atau energi Tuhan?”

    Cukup izinkan mengalir dengan kepercayaan dan sumeleh.

6. Kunci Penting

  • Yakin pada Tuhan, apa pun nama yang Anda gunakan.

  • Pasrah dan biarkan Tuhan bekerja. Anda hanya saluran

  • Pancarkan kasih, bukan emosi atau energi negatif.
    Jika hati Anda masih berat atau marah, hentikan sejenak dan kembali ke doa biasa.

7. Penutup: Syukur

Akhirilah dengan rasa syukur dan terima kasih atas kesempatan menjadi saluran kasih-Nya.


www.rumahhealing.com