“Menuntun Jiwa Menuju Cahaya: Kisah, Pengalaman, dan Teknik PKeS”

 


“Kelahiran Berakhir; Percikan Cahaya Tak Pernah Mati”


Dalam diskusi tentang arwah atau jiwa manusia—khususnya mereka yang masih berada di alam antara—sering muncul pertanyaan: apakah jiwa-jiwa ini benar-benar bisa dibantu untuk melanjutkan perjalanan menuju Cahaya?

Ada yang bilang tidak bisa, ada yang bilang itu hanya ilusi. Tapi kebenaran sering kali bergantung pada pengalaman masing-masing.

Saya ingin berbagi sedikit pengalaman pribadi, terutama ketika saya mendampingi Heri Siswanto—seseorang yang dianugerahi kemampuan khusus dan mengajarkan teknik PKeS, sebuah metode untuk membantu jiwa-jiwa tersesat kembali ke Cahaya.

Pengalaman beliau sering terkonfirmasi tanpa disengaja melalui sesi-sesi hipnoterapi saya dengan klien yang tidak saling mengenal. Dari sanalah saya mulai mempraktikkan teknik PKeS ketika berhadapan dengan jiwa-jiwa yang menumpang pada masalah klien saya.

Beliau telah lama menolong jiwa-jiwa di alam antara: jiwa korban kecelakaan, sakit, perang, pembunuhan, bunuh diri, korban energi gelap, hingga jiwa-jiwa yang terperangkap karena susuk atau media lainnya. Jumlah mereka jauh melebihi jumlah manusia yang hidup saat ini.
Dalam pengalamannya, Beliau mampu mengaktifkan atau menonaktifkan mata batin kapan pun—bahkan sambil berkendara—dan bisa berkomunikasi dengan jiwa-jiwa itu.

Namun tidak semua jiwa dapat dibantu. Mereka yang pernah membuat perjanjian sadar dengan kuasa kegelapan biasanya tidak bisa ditolong, kecuali dalam kasus tertentu ketika semesta mengizinkan mereka pulang. Karena itu, Beliau selalu bekerja dalam keheningan, menghindari sorotan publik, dan hanya berbagi pada orang yang tepat—termasuk saya, murid kesayangannya.

Sering kali Beliau menolong jiwa tanpa diminta. Ada kalanya hanya melihat foto di media sosial sudah cukup membuat jiwa tertentu terkoneksi dan meminta bantuan. Ada pula momen ketika Beliau melihat keluarga yang telah meninggal masih tersesat. Dengan lembut, Beliau menuntun mereka untuk mengikhlaskan dunia dan kembali menuju Cahaya.

Beliau pernah berbagi pengalaman memasuki alam Cahaya yang disebut Arupa Datu: ruang tanpa bentuk, hanya terang putih yang memancarkan kedamaian. Di sana tidak ada perbedaan apa pun. Tempat itu terasa seperti rumah—sampai Beliau hampir enggan kembali. Namun itu kisah lain untuk waktu lain.

Ketika Beliau hendak mengadakan workshop pertamanya, beliau mendapat “bisikan” nama teknik itu: PKeS, sebuah istilah untuk memudahkan banyak orang ikut serta dalam pelayanan menolong jiwa-jiwa yang terabaikan. Workshop pertama dilakukan menjelang masa pandemi, dan mentoring berlanjut melalui grup WhatsApp dan pertemuan Zoom. Banyak orang ikut bergabung karena teknik ini benar-benar membuka mata dan hati.

Beberapa peserta adalah anak-anak indigo yang memiliki kemampuan melihat jiwa tetapi tidak tahu bagaimana menanganinya. Ada yang ketakutan, ada yang menutup indera keenamnya, ada yang justru diarahkan menjadi dukun. Melalui PKeS, mereka akhirnya paham bahwa tidak semua jiwa yang muncul adalah gangguan—banyak dari mereka sebenarnya meminta pertolongan.

Ada tiga tahap yang biasanya diajarkan:

  1. Berdoa dengan keyakinan yang biasa dilakukan.
    Ketika jiwa muncul, mereka cukup berdoa khusyuk… dan jiwa itu perlahan menghilang.

  2. Meminjamkan ‘rasa’.
    Seperti yang dibahas dalam buku Mati Tak Berarti Pergi karya Herwiratno.
    Saat dilakukan, banyak jiwa muncul, tersenyum, lalu menghilang dalam cahaya kecil.

  3. PKeS: Pancaran Kasih energi Semesta.
    Ini tahap paling powerful. Hanya dengan duduk hening, niat tulus, dan hati terbuka, peserta melihat Cahaya besar muncul dan ribuan jiwa datang, berebut masuk. Ada yang tersenyum, ada yang melambaikan tangan, dan banyak yang tampak lega dan bahagia ketika akhirnya pulang.

Rata-rata peserta merasakan bahwa teknik ini bukan sekadar teori. Mereka melihat sendiri betapa banyak jiwa yang akhirnya menemukan jalan kembali.

Namun satu hal yang menjadi syarat utama, tanpa kompromi: ketulusan hati.
Tanpa itu, teknik ini hanya jadi gerakan kosong.

Mengapa kita perlu menolong mereka?
Tunggu sharing selanjutnya.
Karena cerita ini sudah panjang… dan perjalanan jiwa masih terus berlanjut. 😊

Salam Rahayu. 





0 komentar:

Posting Komentar